Kamis, 25 Agustus 2011

Pengaruh Kebudayaan Luar Terhadap Kebudayaan Indonesia dan Perjuangan Bangsa Indonesia Menuju Kemerdekaan


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengaruh Kebudayaan Luar Terhadap Kebudayaan Indonesia
2.1.1 Kebudayaan Hindu dan Budha
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan YME, karena manusia diberi akal dan pikiran. Melalui akalnya manusia memiliki hasil karya yang senantiasa berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia itu sendiri yang disebut sebagai kebudayaan. Budaya berasal dari kata Sansekerta yaitu “buddhayah” atau “buddhi” yang berarti akal. Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal.
Berbicara mengenai kebudayaan Hindu dan Budha, maka pandangan kita tidak lepas pada peradaban lembah Sungai Indus, India. Sekitar 2000 SM, di wilayah India mulai berkembang budaya dan agama Hindu. Beberapa waktu kemudian lahir budaya dan agama Budha. Melalui hubungan perdagangan antara Indonesia dengan India, maka berkembang pula agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang dibawa oleh para pedagang di Indonesia. Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia menimbulkan perpaduan budaya antara budaya Indonesia dengan budaya Hindu-Budha. Perpaduan dua budaya yang berbeda ini disebut dengan akulturasi, dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi dengan tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.
Munculnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia sangat besar dan dapat dilihat melalui beberapa hal sebagai berikut.
a.       Seni Bangunan
Seni bangunan yang menjadi bukti berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia pada bangunan candi. Candi Hindu maupun Budha di Indonesia pada dasarnya merupakan perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan budaya India. Dasar bangunan candi merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak itu mendapat pengaruh Hindu-Budha, sehingga menjadi wujud sebuah candi, seperti Candi Borobudur.
b.      Seni Rupa/Seni lukis
Seni rupa atau seni lukis India telah masuk ke Indonesia yang dibuktikan dengan ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di Kota Bangun, Kutai dan patung Budha berlanggam Amarawati di Sikending, Sulawesi Selatan. Pada candi Borobudur terdapat seni rupa India berupa relief-relief cerita Sang Budha Gautama.
c.       Seni Sastra
Seni sastra India turut memberi corak dalam seni sastra Indonesia. Bahasa Sansekerta besar pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Prasasti-prasasti awal menunjukan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, seperi yang ditemukan di Kalimantan Timu, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sansekerta dam huruf pallawa.
d.      Kalender
Diadopsinya sistem penanggalan atau kalender India di Indonesia merupakan wujud dari akilturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka. Di samping itu juga ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat atau gambaran kata.
e.       Kepercayaan dan filsafat
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan itu bersifat animisme dan dinamisme. Kemudian, masuknya pengaruh Hindu-Budha telah mengakibatkan terjadinya akulturasi, terutama dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan dewa-dewa alam.
Tradisi Hindu-budha mengalami perkembangan yang cukup pesat di wilayah Indonesia dan berpengaruh pada segala sektor kehidupan masyarakatnya, antara lain pada sektor-sektor berikut.
1.      Pemerintahan
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia telah mengenal sisten pemerintahan dari seorang kepala suku. Sistem pemerintahan seorang kepala suku berlangsung secara demokratis. Akan tetapi, setelah masuknya poengaruh Hindu-budha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem pemerintahan yang berkembang di India. Dimana kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun-temurun. Sehingga pemimpin tidak lagi didasarkan kepada kemampuan, melainkan oleh keturunan.
2.      Sosial
Dalam bidang sosial terjadi perubahan-perubahan dalam tata kehidupan sosial masyarakat. Perubahan itu terjadi sebagai akibat diperkenalkannya sistem kasta dalam masyarakat. Kasta-kasta itu diantaranya kasta brahmana, kasta ksatria, kasta waisya kasta sudra.
3.      Ekonomi
Dalam bidang ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia telah mengenal pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha.
4.      Kebudayaan
Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha terlihat dari hasil-hasil kebudayaan seperti candi, seni sastra, cerita-cerita epos. Sedang pengaruh lainnya berupa sistem tulisan. Karena itu, pengaruh Hindu-Budha sangat besar peranannya di dalam memperkenalkan sistem tulisan bagi masyarakat Indonesia.
5.      Pendidikan dan Pembentukan Jaringan Intelektual
Budaya Hindu-Budha berpengaruh dalam bidang pendidikan dan pembentukan jaringan intelektual. Kaum brahmana yang datang ke Indonesia memberikan pendidikan dan mengajarkan ajaran-ajaran Hindu kepada masyarakat dengan membuka tempat-tempat pendidikan yang disebut pasraman. Dengan demikian, muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu yang telah memiliki pengetahuan tinggi dan menghasilkan karya sastra yang terkenal hingga kini, seperti Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dari kerajaan Keridi dengan karya sastra yang berjudul Bhatarayudha. Di kerajaan Sriwijaya juga terdapat guru besar agama Budha bernama Dharmakirti dan Dharmapala.
6.      Teknologi
Sebelum munculnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, mesyarakatnya telah memiliki pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Namun, setelah masuknya kebudayaan Hindu-Budha, pengetahuan dan teknologi yang dimiliki bangsa Indonesia semakin berkembang. Terlihat jelas dalam pembangunan candi Borobudur dan penulisan-penulisan pada prasasti-prasasti yang memerlukan keahlian dan teknik penulisan yang tinggi.
Kehidupan sosial, polItik, ekonomi, dan budaya Indonesia pada masa kerajaan Hindu-Budha.
1.      Sistem dan Struktur sosial masyarakat
Pengaruh kebudayaan Hindu dalam sistem dan struktur sosial dapat dilihat dari adanya penerapan sistem pembagian kasta pada masyarakat Indonesia. Kasta merupakan sistem pengelompokan masyarakat melalui tingkatan-tingkatan kehidupan masyarakatnya dan berlaku secara turun-temurun. Kasta dalam masyaraka Indonesia digunakan untuk membedakan status sosial masyarakatnya. Pada masyarakat yang memperoleh pengaruh Budha tidak mengenal adanya kasta.
2.      Struktur birokrasi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di berbagai daerah di Indonesia
Struktur birokrasi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di berbagai wilayah Indonesia tidak sama, karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tradisi masyarakatnya. Sebagai contoh struktur birokrasi di kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim, maka sasaran dalam perluasan wilayah kekuasaannya lebih banyak tertuju untuk menguasai daerah lautan, maupun jalur dan pusat-pusat perdagangannya yang sangat srategis dalam rangka menambah pandapatan negara. Dengan demikian, struktur birokrasinya bersifat langsung, karena raja memegang peranan penting dalam pengawasan terhadap tempat-tempat yang dianggap strategis.
3.      Sistem Penguasaan Tanah, Pajak, dan Tenaga Kerja pada Masa Kerajaan Hindu-Budha
Pada masa berkembangnya kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia, apa saja yang ada dalam wilayah kerajaan menjadi milik kerajaan sepenuhnya. Bahkan apabila kerajaan membutuhkan nyawa dari rakyatnya untuk dijadikan persembahan, maka rakyat tidak dapat mengelak.
Pemberlakuan pajak sudah mulai ada guna membiayai segala keperluan kerajaan. Pajak ditarik dari hasil panen rakyat oleh para pejabatdi tingkat daerah untuk diserahlan kepada raja pusat.setiap daerah memiliki pembayaran pajak yang berbeda disesuaikan dengan luas dan kesuburan tanah yang mereka miliki.
Kesetiaan yang sangat tinggi dari rakyatnya mempermudah raja dalam mengerahkan tenaga kerja. Biasanya seorang raja meminta kepada rakyatnya untuk mengerjakan sesuatu, seperti membangun jalan-jalan, tempat-tempat suci, candi-candi, dan lain-lain.mereka tanpa pamrih untuk mengerjakan apapun yang menjadi kewajibannya terhadap raja.
4.      Bukti Arkeologis dari Pengaruh Tradisi Hindu-Budha
Apabila ditelusuri bukti-bukti arkeologis pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia, terdapat berbagai jenis dan bentuk benda-benda hasil budaya masyarakatnya. Bukti-bukti tersebut diantaranya candi, patung dewa, prasasti, dan lain-lain.
Ada perbedaan fungsi dari pengertian candi yang mendapat pengaruh kebudayaan Hindudengan kebudayaan Budha. Pembuatan candi pada masa pengaruh Hindu diperuntukan sebagai makam dari orang-orang terkemuka atau para raja yang wafat. Misalnya Candi Singosari dan Candi Prambanan. Sedangkan dalam budaya Budha, candi merupakan tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Mahaesa melalui Sang Budha Gautama. Misalnya, candi Borobudur dan Candi Muara Takus.
Selain candi, mpeninggalan pengaruh kebudayaan Hindu-Budha yang terkenal adalah patung-patung dewa. Dalam agama Hindu pembuatan patung dewa disesuaikan dengan manifestasinya, contohnya patung Dewa Siwa sebagai Mahadewa. Sedangkan dalam agama Budha dibuatkan patung Sang Budha dalam berbagai bentuk perwujudannya. Contohnya, patung Budha sebagai Wairocana.
Sedangkan Peninggalan lainnya seperti prasati-prasasti atau tulisan di batu, misalnya Prasasti Ciaruteun peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Merupakan cap telapak kaki pada batu melambangkan kekuasaan raja Purnawarman atas daerah itu.
Kemunduran tradisi Hindu-Budha di Indonesia
Perkembangan pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia cukup besar, kerena dapat mempengaruhi seluruh sektor kehidupan masyarakatnya. Bahkan tidak kurang dari 1000 tahun (400 M – 1478 M).
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan runtuhnya keajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia, sebagai berikut.
a.       Terdesaknya kerajaan-kerajaan sebagi akibat munculnya kerajaan yang lebih besar dan kuat.
b.      Tidak ada peralihan kepemimpinan atau kaderisasi
c.       Kemunduran ekonomi dan perdagangan, sehingga banya diambil alih oleh para pedagang melayu dan Islam.
d.      Tersiarnya agama dan kebudayaan Islam yang dengan mudah diterima oleh para adipati di daerah pesisir.
Setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, bukan berarti tradisinya juga ikut lenyap. Kebudayaan Hindu-Budha masih terus bertahan, bahkan di daerah-daerah yang mendapat pengaruh Islam. Misalnya pada masyarakat Jawa terdapat upacara membawa sesaji ke sawah atau ke laut sebagai persembahan kepada penguasa laut Selatan (Nyi Roro Kidul).

2.1.2 Kebudayaan Islam
Agama Islam pertama kali diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berasal dari keturunan suku Quraisy, Arab. Bangsa Arab sebelum Islam,k mempunyai adat istiadat penuh takhayul atau menyembah berhala. Agama Islam telah dapat mempersatukan seluruh sukubangsa Arab yang dulunya terpecah-belah. Agama Islam berhasil mempersatukan bangsa Arab menjadi suatu bangsa yang kuat dan berderajat tinggi, hingga di kemudian hari menjadi bangsa yang gemilang seiring dengan pesatnya penduduk yang menganut Islam dan membudaya dalam segala aspek kehidupannya.
Teori masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia
Agama dan kebudayaan Islam mengalami perkembangan cukup pesat di wilayah Indonesia yang dilakukan dengan damai melalui aktivitas perdagangan. Perkembangannya berawal dari masyarakat yang berada di daerah pesisir pantai. Berdasarkan bukti yang ditemukan, diperkirakan agama dan kebudayaan islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 M, yaitu pada masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam yang berasal dari Gujarat (India).
Proses penyiaran agama Islam di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara selain perdagangan, seperti melalui perkawinan, politik, pendidikan, kesenian, dan tasawuf sehingga mendukung meluasnya ajaran Islam.
Pengaruh kebudayaan islam dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia
Munculnya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaan Samudera Pasai . mempunyai pengaruh besar terhadap berdiri dan berkembangnya kerajaan dan kebudayaan Islam pada masa berikutnya. Budaya Islam telah berpengaruh dalam segala aspek kehidupan bangsa Indonesia. Dalm perkembangan kebudayaan Islam di berbagai daerah di Indonesia, pola dasar kebudayaan setempat yang bersifat tradisional masih tetap kuat, sehingga terdapat suatu wujud dan bentuk perpaduan
Perkembangan tradisi Islam di Indonesia dapat diketahui budaya tradisional Indonesia dengan budaya Islam atau disebut akulturasi budaya.dari kehidupan social dalam masyarakat di berbagai daerah. Misalnya, dalam tradisi Islam kehidupan masyarakatnya tidak mengenal kasta seperti kehidupan masyarakat Hindu. Bahkan berdasarkan ajaran Islam tidak ada golongan-golongan dalam kehidupan socialkarna setiap manusia memiliki derajat dan hak yang sama.
Beberapa kerajaan di Indonesia mendapatkan pengaruh Islam dalam system pemerintahannya antara lain Kerajaan Mataram Islam, Banjar, Banten, Gowa dan Aceh. System pemerintaha atau birokrasi pada kerajaan Islam memiliki banyak persamaan. Semua rajanya bergelar “sultan” yang memegang kekuasaan tertinggi dan dibantu oleh seorang mangkubumi atau patih yang bertindak sebagai kepala pelaksana pemerintahan. Pengaruh tradisi Islam selain telah mengubah system social budaya masyarakat, juga mempengaruhi pembentukan jaringan ekonomi dan intelektual dalam masyarakat.


Perwujudan akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Islam
Bukti-bukti telah terjadinya akulturasi kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan Islam dapat dilihat dari segi bangunan seperti pasa masjid, makam, seni rupa, dan seni sastra.
Masjid-masjid yang terdapat di Indonesia terutama masjid kuno berbeda dengan masjid di negeri . kekhususan gaya arsitektur ini terlihat dari bentuk atapnya yang bertingkat lebih dari satu yang disebut dengan “atap tumpang”. Bentuk atap pling atas lebih kecil daripada di bawahnya. Bentuk ini didasarkan pada hasil kebudayaan Indonesia yaitu “punden berundak”.  Contohnya Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Banten.
Makam sebagai tempat kediaman yang terakhir, diusahakan pula menjadi perumahan yang sesuai dengan orang yang dikubur. Makam orang Islam di Indonesia biasanya diabadikan atau diperkuat dengan bangunan dari sebuah batu yang disebut jirat atau kijing.
Penulisan aksara-aksara Arab di Indonesia biasanya dipadukan dengan seni Jawa. Penulisan Arab yang indahatau sen kaligrafi turut serta mewarnai perkembangan seni rupa Islam di Indonesia.

2.1.3 Kebudayaan Barat
Masuknya pengaruh kebudayaan Barat atau Eropa ke Indonesia banyak diwarnai oleh faham kolonialisme dan imperialism yang saat itu memang sedang berkembang di Eropa. Kolonialisme dam Imperialisme berkembang di Eropa karena dipicu oleh beberapa factor yang mempengaruhinya saat itu, seperti adanya Merkantilisme, Revolusi Industri, dan Kapitalisme.
Pengaruh kebudayaan Barat (Belanda) di Indonesia
Belanda adalah Negara barat yang berhasil menduduki tempat-tempat yang paling strategis seperti Kepulauan Maluku Tengah (Ambon, Seram, Banda.). pusat-pusat kekuasaan pemerintahan Belanda merupakan kota-kota Pemerintahan, seperti kota provinsi, kota kabupaten, dan kota distrik. Pusat kota merupakan suatu lapangan yang dikelilingi oleh gedung-gedung penting
Dalam kota-kota pusat pemerintahan tersebut, terutama yang ada di Jawa, Sulawesi Utara, dan Maluku, berkembanglah dua lapisan social. Lapisan pertama adalah kaum buruh yang telah meninggalkan pekerjaan petani dan bekerja dengan tangan dalam berbagai macam lapangan pertukangan. Lapisan kedua adalah kaum pegawai yang bekerja di belakang meja atau kantor-kantor pemerintahan. 
System pendidikan sekolah-sekolah Belanda berkembang di Indonesia, itu menjadi pengaruh yang bersifat positif. Orang-orang Indonesia mendapat pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaruh kebudayaan barat atau Eropa yang juga masuk ke dalam kebudayaan Indonesia dalam rangka kolonialisme Belanda, ialah tersebarnya agama Katolik dan Kristen Protestan.

2.2 Perjuangan Bangsa Indonesia Menuju Kemerdekaan
2.2.1 Penjajahan Di Indonesia dan Akibatnya
Penduduk yang menempati wilayah nusantara yang dikenal dengan bangsa Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka dari penjajahan asing sejak 17 Agustus 1945. Artinya, sejak tanggal itulah secara formal Bangsa Indonesia lahir. Sebelum mencapai kemerdekaan, penduduk nusantara ini berada dalam kondisi terjajah oleh bangsa asing, khususnya bangsa Eropa. Ada dua factor yang mengakibatkan penduduk yang ada di wilayah nusantara ini dijajah oleh bangsa Barat, yakni factor internal dan factor eksternal. Yang dimaksud factor internal adalah kondisi politik, ekonomi, social, dan budaya sehingga bangsa lain dapat masuk dan menguasai serta memonopoli perdagangan sedangkan factor eksternal adalah kondisi yang terjadi di Negara-negara penjajah khususnya di Eropa sehingga mereka melakukan ekspedisi dan ekspansi ke seluruh dunia hingga sampai di wilayah nusantara.
  Bangsa Barat yang melakukan penjelajahan ke wilayah Asia Tenggara termasuk wilayah nusantara yang saat ini berdiri NKRI secara berturut-turut adalah Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda.
  Ada sejumlah factor yang menyebabkan bangsa Barat atau Eropa itu datang ke wilayah nusantara termasuk Indonesia
1.      Berkembangnya kepercayaan yang dilahirkan dari ajaan Copernicus bahwa dunia ini bulat.
2.      Munculnya kebebasan bagi setiap orang untuk berkreasi sehingga menghasilkan sejumlah penemuan baru yang sangat berguna bagi kehidupan umat manusia, seperti ditemukannya peta bumi, kompas, kapal-kapal, dan lain-lain.
3.      Munculnya Islam sebagai kekuatan baru di wilayah Timur Tengah yang berhasil menguasai jalur perdagangan atau pintu yang menghubungan antara dunia Timur dan Barat.
4.      Penjelajahan mereka ke Timur dilandasi oleh semangat Reconquesta, yakni perang salib dengan tujuan untuk menaklukan orang-orang yang pernah mengalahkan mereka yaitu orang-orang Islam.
5.      Perjanjian Tordessilas yang ditandatangani 7 Juni 1494. Perjanjian ini lahir dilatarbelakangi oleh keputusan Paus Alexander VI di Roma yang memberikan kesempatan kepada Spanyol dan Portugis untuk memperluas kekuasaan melalui keputusan yang disebut Bull of Demaracation.
Portugis berhasil menguasai pusat-pusat perdagangan di wilayah Timur, seperti : Bartolomus Diaz menemukan Tanjung Harapan; Vasco da Gama menemukan Calicut, India; Don Alfonso de Albuquerque, menaklukan Goa hingga ke wilayah Maluku; dan Antonio d’abreu menguasai Maluku.
Bangsa Asing menjajah Indonesia tidak sepenuhnya disebabkan oleh factor eksternal melainkan karena factor internal.
1.      Terjadinya kontak hubungan perdagangan antara penduduk pribumi dan orang asing.
2.      Penduduk nusantara termasuk Indonesia adalah penghasil rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh orang2 Barat. Kepemilikan rempah-rempah ini berdampak positif sekaligus negative bagi eksistensi sebuah bangsa.
3.      Kondisi penduduk nusantara masih merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang sangan rentan dengan persaingan dan diantara mereka terjadi ambisi untuk saling menaklukan.
Secara umum, praktik penjajahan dimanapun memiliki karakteristik yang sama yakni menciptakan situasi dan kondisi yang tidak nyaman, tidak merdeka, dan adanya konflik-konflik antar warga pribumi sehingga terjadi perpecahan. Sedikitnya ada lima bangsa yang pernah secaralangsung menjajah Indonesia, yakni Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang. Lima bangsa ini pernah menguasai sebagian wilayah nusantara dengan tujuan yang berbeda-beda. Portugis dan Spanyol, mengadakan ekspansi ke wilayah luar Eropa didasari oleh himbauan Paus Alexander VI yang membagi dunia menjadi dua bagian, yakni wilayah Barat untuk Spanyol dan wilayah Timur untuk Portugis. Inggris melakukan penjajahan kerena terdorong oleh kondisi kemajuan teknologi akibat terjadinya revolusi industry. Belanda melakukan ekspansi dilatarbelakangi oleh tujuan mencari rempah-rempah akibat pusat perdagangan yang ada di Lisabon ditutup oleh Portugis. Jepang menjajah Indonesia dilatarbelakangi Timuoleh kondisi Negara Jepang saat itu yang sedang menghadapi Perang Asia  Raya.
Akibat penjajahan itu berdampak pada aspek ekonomi, politik, ideology, dan social budaya.
Dalam bidang ekonomi, penjajahan telah mengakibatkan tatanan ekonomi yang telah berjalan baik, khususnya system yang telah disepakati oleh pihak penguasa dan rakyat menjadi hancur.
Kondisi perekonomian penduduk nusantara sangat parah pada masa penjajahan terutama sejak diberlakukannya Sistem Tanam Paksa oleh  Pemerintah Hindia Belanda. Kondisi ini disebabkan karena beban pajak yang memberatkan, gagal panen, kerja rodi dan bentuk tekanan lain yang dirasakan oleh penduduk. Apabila petani tidak menaati perintah tanam paksa dengan meninggalkan daerahnya maka tanah tersebut diambil alih menjadi melik pemerintah Hindia Belanda.
Dalam bidang politik dan ideology, pemerintan Hindia Belanda menerapkan aturan yang keras terhadap para aktivis atau kaum pejuang yang berjuang melalui partai politik. Ada upaya-upaya pembatasan ruang gerak bagi kaum aktivis-pejuang agar perjuangan kaum pribumi tidak berkembang sehingga dapat membahayakan pemerintah jajahan.
Dalam bidang social budaya, akibat penjajahan ditandai oleh semakin melemahnya kekuasaan feodal atau raja-raja dan bangsawan.kondisi ini terjadi pada awal abad ke-20 dimana hamper seluruh kerajaan di nusantara telah tunduk kepada kekuasaan penjajah Belanda.
2.2.2 Pejuangan Bangsa Indonesia dan Semangat Kebangsaan Menuju Kemerdekaan
  Hampir semua orang yang ada di wilayah nusantara ini pernah merasakan bagaimana sakit dan penderitaan selama dalam alam penjajahan. Misalnya, pengalaman penderitaan selama diterapkannya peraturan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) oleh Van Den Bosch tahun 1828. System tanam paksa mewajibkan rakyat menanami sebagian dari sawah atau ladangnya dengan tanaman yang ditentukan oleh pemerintah dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah.
  Meskipun demikian, ditengah-tengah penderitaan rakyat nusantara akibat praktek cultuur stelsel, di negeri Belanda sendiri terjadi proses pembangunan besar-besaran hasil keringat rakyat di nusantara yang mengalami proses pembodohan dan pemiskinan. Muncul pula suara-suara yang ingin membela rakyat jajahan di Parlemen Belanda terutama dari partai liberal yang memenangkan pemilu saat itu. Orang-orang yang menaruh simpatik atas penderitaan rakyat nusantara adalah Baron Van Houvell, Eduard Douwes Dekker, Mr. Van Deventer. Mereka mengusulkan agar belanda melakukan Politik balas budi (Etische Politic) yang terdiri atas 3 program: edukasi, transmigrasi, dan irigasi. Meskipun kenyataannya menyimpang dari apa yang diharapkan, politik etis ini memberikan pengaruh positif untuk rakyat Indonesia. Terbukti setelah adanya politik balas budi, ada rakyat Indonesia yang mulai sadar  atas nasibnya dimana banyak kepincangan social, kebodohan dan kemiskinan yang merajalela. Mereka yang mengenyam pendidikan inilah yang selanjutnya menjadi tokoh-tokoh pergerakan dan kebangkitan nasional.
  Seperti yang disebutkan diatas, ada 6 bangsa Barat yang pernah menjajah Indonesia. Yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang. Dari pengalaman pahit tersebut, rakyat Indonesia mulai sadar akan keadaan bangsanya saat itu. Akhirnya lahirlah perjuangan-perjuangan rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari masa penjajahan dan merebut kemerdekaan.
2.2.2.1 Perjuangan Sebelum Kebangkitan Nasional (sebelum 1908)
1.      Perjuangan Melawan Penjajah Portugis
Perjuangan pertama menentang penjajahan dilakukan bangsa Indonesia terhadap penjajah Portugis ini dilakukan oleh rakyat Malaka, Johor, Aceh, Maluku, Demak, dan Sunda Kelapa.
a.       Perjuangan Rakyat Malaka
Pada tahun 1511 Malaka dibawah pimpinan Sultan Mahmud Syah I melakukan perlawanan terhadap pendudukan Portugis. Namun akhirnya Portugis dapat mendesak pasukan Malaka sehingga mereka terpaksa menyingkir ke pulau Bintan. Malaka akhirnya jatuh ke Portugis tahun 1511. Pada tahun 1526 pulau Bintan diserbu oleh Portugis. Sultan Mahmud Syah I kemudian lari ke Kampar hingga wafatnya pada tahun 1528.
b.      Perjuangan Rakyat Johor
Dibawah pimpinan Alauddin Ri’ayat Syah II, putra dari Sultan Mahmud Syah I, rakyat Johor melakukan perlawanan terhadap Portugis mulai tahun 1530. Perjuangan ini kemudian dilanjutkan oleh Abdul Jalil Syah (1580-1597) yang dapat menangkis serangan Portugis.
c.       Perjuangan Rakyat Demak
Dibawah pimpinan Dipati Unus pasukan Demak (Jawa Tengah) pada tahun 1512-1523 melakukan perlawanan terhadap Portugis. Dengan dibantu oleh armada Aceh, Palembang, dan Bintan. Dipati Unus berusaha merebut kembali MAlaka dari kekuasaan Portugis, namun tidak berhasil.
d.      Perjuangan Rakyat Maluku
Ketika Portugis berhasil menaklukan Malaka pada tahun 1511, Portugis kemudian menuju ke Maluku Utara, sebagai pusat penghasil remah-rempah. Portugis berusaha memonopoli perdagangan, memeras dan menindas rakyat, dan juga melakukan penyebaran Agama Kristen secara paksa kepada penduduk Maluku Utara. Dibawah pimpinan Sultan Hairun rakyat Ternate melakukan perlawanan terhadap Portugis mulai tahun 1550. Dengan dalih untuk mengadakan perundingan damai, Portugis menip dan membunuh Sultan Hairun, sehingga membuat rakyat Ternate semakin marah. Perjuangan kemudian diteruskan oleh Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun. Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate Tidore dan Halmahera bersatu-padu melawan Portugis pada tahun 1570-1575. Pada tanggal 28 Desember 1577 rakyat Ternate berhasil mengusir Portugis dari Ternate.
e.       Perjuangan Rakyat Sunda Kelapa
Fatahillah seorang ulama dari Demak yang bertugas menyebarkan agama Islam di Jawa Barat memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Portugis. Pada tahun 1527 pasukan Fatahillah menyerang orang-orang Portugis di Sunda Kelapa dan berhasil mengalahkannya. Portugis akhirnya terusir kembali ke Malaka. Nama Sunda Kelapa oleh Fatahillah kemudian diganti dengan nama Jayakarta (disingkat menjadi Jakarta). Yang berarti kemenangan akhir.
2.      Perjuangan Menentang Penjajah Balanda
Perjuangan menentang penjajah Belanda secara gagah berani dilakukan olrh rakyat diberbagai daerah di Indonesia. Meskipun perjuangan dengan peperangan bersenjata dilakukan dimana-mana dan dalam rentang waktu yang sangat lama, namun sampai awal abad ke dua puluh Belanda tidak dapat terusir dari tanah air Indonesia.ada beberapa kelemahan dari perjuangan bangsa Indonesia yaitu sebagai berikut :
a.       Perjuangan bersifat local atau kedaerahan.
b.      Perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara sporadic dan tidak dalam waktu yang bersamaan.
c.       Perjuangan pada umumnya dipimpin oleh pemimpin yang kharismatik.
d.      Perjuangan menentang penjajah sebelum masa 1908 dilakukan dengan kekerasan senjata.
e.       Para pejuang dapat diadu domba oleh pihak penjajah.
Beberapa kelemahan ini menjadi pelajaran yang berarti bagi bangsa Indonesia dalam menentukan strategi perjuangan dalam masa berikutnya. Bangsa Indonesia sadar bahwa kekuatan penjajah yang terorganisasi dengan baik tidak dapat dengan mudah ditaklukan oleh perjuangan yang bersifat local dan tidak terorganisasi dengan baik.

2.2.2.2 Perjuangan Setelah Kebangkitan Nasional (1908)
Tahun 1908 merupakan periode pembatas dari dua tipe strategi perjuangan yang berbeda dalam menentang penjajah. Dalam penjelasan berikut akan diuraikan beberapa organisasi yang menonjol setelah masa Kebangkitan Nasional 1908.
Budi Utomo, merupakan organisasi pertama di Indonesia yang berbentuk modern, yaitu organisasi dengan pengurus yang tetap, ada anggota, tujuan, program kerja berdasarka peraturan yang ada. Budi utomo didirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 yang dilatarbelakangi oleh dr. Wahidin Sudirohusodo untuk memajukan bangsa Indonesia di bidang pengajaran yang pada saat ini kondisinya sangat terbelakang. Pada Kongres pertama Budi Utomo, 5 Oktober di Yogyakarta berhasil menetapkan tujuan perkumpulan yaitu kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industry, kebudayaan.
Dalam rapat umum, 5-6 Agustus 1915 di Bandung Budi Utomo menetapkan mosi yang menegaskan pelunya misili untuk bangsa Indonesia, tetapi harus melalui Parlemen (DPR) dengan cara membentuk undang-undang. Karena Budi Utomo tidak pernah mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politik kurang begitu penting. Namun suatu hal yang penting dari Budi Utomo adalah bahwa didalam tubuhnya telah ada benih semangat nasional yang pertama dank arena itu ia dapat dipandang sebagai induk Pergerakan Nasional.
Sarekat Islam, didirikan di Solo tahun 1911 oleh Haji Samanhudi. Bertujuan untuk memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam sebagai agama yang memiliki pemeluk terbesar di Indonesia. Lahirnya Sarekat Islam lebih banyak dilatarbelakangi oleh factor-faktor sebagai berikut :
1.      Perdagangan bangsa Tionghoa yang telah banyak menghambat perdagangan Indonesia
2.      Semakin meningkatnya penyebaran agama Kristen di tanah air dan adanya ucapan penghinaan parlemen Belanda tentang tipisnya kepercayaan beragama orang Indonesia.
3.      Cara adat istiadat lama yang terus dipakai di daerah-daerah kerajaan yang makin lama makin dirasakan sebagai penghinaan.
Kongres Sarekat Islam pertama, 26 Januari 1913 di Surabaya yang dipimpin oleh Tjokroaminoto bahwa Sarekat Islam bukan partai politik dan tidak beraksi melawan Pemerintah Belanda. Dalam Kongres kedua di Solo diputuskan bahwa Sarekat Islam hanya terbuka untuk orang Indonesia dan bukan untuk pegawai Pangreh Praja agar tidak berubah corak dan tetap menjadi organisasi rakyat. Kongres ketiga di Bandung 17-24 Juni 1916,dinamakan Kongres Nasional pertama. Dipimpin oleh Tjokroaminoto mencantumkan istilah masional dimaksudkan bahwa Sarekat Islam menuju kearah persatuan yang teguh dari semua golongan bangsa Indonesia.
Indische Partij, didirikan pada tanggal 25 Desember 1912. Pendirinya adalah Douwes Dekker yang kemudian terkenal dengan nama Danudirdja Setyabudhi. Tokoh terkenal lainnya adalah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Indische Partij berpijak pada asas nasionalisme yang mencita-citakan Indonesia merdeka. Oleh karena dasar perjuangannya yang tegas, Indische Partij dapat dikatakan sebagai partai polotik yang pertama di Indonesia. Karena tokoh-tokoh Indische Partij dianggap berbahaya oleh Belanda, maka mereka kemudian mendapat hukuman buangan ke negeri Belanda. Kepergian ketiga tokoh tersebut menyebabkan kegiatan Indische Partij makin lama makin menurun.
Partai Nasional Indonesia, didirikan tanggal 4 Juli 1927 atas inisiatif Ir.Sukarno. dalam anggaran dasarnya disebutkan bahwa tujuan PNI adalah bekerja untuk kemerdekaan Indonesia. Dalam rapat-rapatnya PNI selalu mencita-citakan persatuan bangsa Indonesia. Tercapai dalam rapat tanggal 17-18 Desember 1927 di Bandung yang dihadiri oleh PNI, Boedi Oetomo, Partai Sarekat Islam, Pasundan, Kaum Betawi, Soematranenbond, Indonesische Studieclb, dan Algeemene Stdieclub. Mendirikan feredari  yaitu pemufakatan Perhimpunan-perhinpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
Kemajuan besar PNI dalam membawa rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan membuat pemerintah Kolonial Belanda merasa cemas menghadapi PNI. Akhirnya Belanda bertindak keras dengan menangkapi para tokoh dan anggota PNI pada tanggal 29 Desember 1929.
Perkumpulan Pasundan, didirikan pada bulan September 1914 di Jakarta. Anggaran dasarnya mirip dengan Budi Utomo hanya ditujukan untuk daerah Pasundan saja. Sebelum tahun 1920, Pasundan tidak bergerak di lapangan politik melainkan dibidang kebudayaan. Pasundan merupakan organisasi yang bukan hanya untuk orang kelompok atas melainkan juga untuk kelompok rakyat kecil.
Serikat Sumatera, didirikan pada tahun 1918 oleh orang-orang Sumatera yang ada di Jakarta. sasaran program kerja Serikat Sumatera adalah politik dengan tujuan meningkatkan pengaruh bangsa Indonesia dalam pemerintahan sendiri, memperjuangkan hak pemerintah daerah, mencegah terjadinya pertentangan antar kelompok, kelas ataupun antar suku bangsa. Di bidang ekonomi, perkumpulan ini ingin juga memajukan perekonomian orang Sumatera.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar